Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

PATER DAMIANUS HARDJASOEWONDA (MOEHLONTONG), S.J. : Perjalanan Iman Seorang Anak Jawa

Kegembiraan hidup terpancar dari masyarakat Jawa, dan di antaranya adalah seorang pria yang menemukan kebahagiaannya dalam pelayanan sebagai imam. Ia begitu menghargai panggilannya hingga mendedikasikan seluruh hidup, kekuatan, waktu, dan segala yang dimilikinya untuk menyebarkan firman Allah. Dengan optimisme yang luar biasa, ia selalu melihat sisi terbaik dari segala hal dan memulai pekerjaannya dari sana.

Sebagai anak laki-laki berusia 14 tahun yang datang ke Kweekschool di Moentilan, ia telah mahir membaca Alquran, tumbuh dalam keluarga Muslim yang taat. Meski ia mengikuti pelajaran agama Katolik sebagai bagian dari kurikulum sekolah, hatinya tetap setia pada ajaran Islam. Setiap Jumat, ia pergi ke masjid untuk beribadah, dan ketika ia masuk Kolese Xaverius untuk menjadi guru, tujuannya bukanlah berpindah agama, melainkan mendapatkan pendidikan di bawah bimbingan para Romo Belanda.

Ia tumbuh sebagai anak yang teguh dan memiliki keyakinan kuat terhadap hak-haknya. Para Bapa yang memahami sifatnya mengajarkan bahwa bahkan manusia dan seluruh bangsa bisa keliru dalam hal agama. Dari mereka, ia belajar untuk tunduk kepada kehendak Allah dan memahami bahwa karya Ilahi terjadi di dalam hati.

Akhirnya, ia menerima pembaptisan dan dikenal sebagai Damianus Moehlontong Hardjasoewonda. Dengan keputusan itu, ia mengabdikan diri sepenuhnya pada iman yang diyakininya, serta memulai perjalanan menuju cita-cita imamat. Ia selalu merasa satu dengan bangsanya dan tidak tahan memikirkan bahwa jutaan orang hidup tanpa mengetahui kebahagiaan spiritual yang ia rasakan. Ia yakin bahwa Allah telah memanggilnya, dan ia pun dengan sepenuh hati merespons panggilan tersebut.

Setelah menyelesaikan ujian sekolah, ia melanjutkan studi Seminari, hingga akhirnya masuk Novisiat para Pater Jesuit di Belanda pada tahun 1921. Perjalanannya bukan hanya perjalanan akademik dan religius, tetapi juga perjalanan hati dan panggilan iman yang membentuknya menjadi imam yang penuh dedikasi.

Ia adalah seorang pemuda yang halus dan mudah bergaul, mampu bekerja dengan saudara-saudara Belanda dalam semangat keramahan bersama. Sebagai anugerah khusus dari Tuhan, ia memanfaatkan keterampilan komunikasi dan ketepatan sikapnya untuk memperkenalkan rekan-rekan Belandanya kepada rakyatnya. Bahkan dalam karya imamatnya di kemudian hari, banyak yang mengaguminya atas caranya menyatukan berbagai budaya dengan penuh kehangatan.

Dengan hati yang murah hati dan sikap terbuka, ia memastikan para pemuda Belanda lebih mengenal rakyatnya. Ia tidak hanya berbicara tentang mereka, tetapi juga menunjukkan kehidupan mereka secara langsung, membawa para sahabatnya lebih dekat kepada komunitas yang ditinggalkan demi panggilan hidup mereka. Setelah menyelesaikan Novisiat, ia melanjutkan studi filsafat selama tiga tahun di Yogyakarta.

Seiring berjalannya waktu dan tugasnya semakin berkembang, ia turun langsung ke desa-desa bersama rekan Belanda untuk mengunjungi masyarakat. Dalam setiap perjalanan, ia selalu memulai dan mengakhiri kunjungan dengan kata-kata penuh penghiburan dan semangat. Dengan senyuman yang tulus dan kebahagiaan yang terpancar, ia membawa keseriusan hidup dalam cara yang menyenangkan dan menginspirasi.

Dalam mengajarkan agama, ia selalu sederhana dan mudah dimengerti, bahkan saat menghadapi pertanyaan menantang terkait Islam. Dengan kepiawaiannya, ia mampu menjawab dengan penuh humor dan kebijaksanaan, sehingga tidak ada perdebatan yang berujung pada pertentangan. Ketika ada yang mencoba mendekati persoalan agama secara mistis dengan istilah "ngèlmoe," ia membimbing mereka dengan pendekatan filosofis yang mempertimbangkan konsep ini dalam pemikiran Jawa. Para pendengarnya menghormatinya bukan hanya karena ilmunya, tetapi karena kebijaksanaan dan pemahaman yang terpancar dari setiap tindakannya.

Sebagai editor majalah apologetik "Tamtama Dalem," ia menghadapi tuduhan keras dari pers Muslim dengan semangat yang tinggi, namun tetap jujur dan objektif. Sikapnya yang selalu terbuka membuat bahkan lawan-lawannya menghormatinya, karena ia memberi mereka perspektif yang lebih adil tentang nilai dan isi Al-Qur’an.

Ia melanjutkan studi teologi di Maastricht, Belanda—masa yang tidak hanya dihabiskan untuk belajar, tetapi juga membangun persahabatan yang kuat. Di sana, ia menanamkan semangat misionaris yang abadi dalam dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Ditahbiskan sebagai imam pada 15 Agustus 1932, ia kembali ke Jawa pada 3 Agustus 1934. Bertugas di Klatèn, di antara Djokja dan Solo, ia merasakan impiannya sebagai imam yang hadir bagi bangsanya akhirnya terwujud.

Meskipun bertubuh mungil, Pastor Hardja dianugerahi semangat kerja luar biasa. Ia berjuang tanpa kenal lelah dalam melayani, hingga para atasannya beberapa kali harus turun tangan agar ia tidak menghabiskan kekuatannya terlalu cepat. Saat beristirahat, ia memilih menghabiskan waktu di rumah pelatihan bersama para Skolastik muda, yang dengan penuh syukur menyerap semangat misionarisnya yang begitu kuat.

Di Wedi, ia meninggalkan jejak yang mendalam dalam dunia misi. Metode pengajaran katekismusnya, pembinaan katekis, pendalaman kehidupan keluarga, kepemimpinan kaum muda, pembangunan sosial, hingga hubungan dengan pegawai negeri non-Katolik, semuanya dihargai oleh para atasannya. Begitu berkesannya karya-karyanya, hingga para Missiologis dan misionaris asing yang mengunjungi Jawa Tengah sering diarahkan untuk menghabiskan waktu bersama Pastor Hardja di Wedi—tempat di mana mereka tidak hanya bisa mendengar tentang pelayanan, tetapi juga melihatnya secara langsung.

Namun, semangatnya untuk bekerja terkadang mengalahkan kewaspadaan terhadap kesehatannya. Tuberkulosis mulai melemahkan tubuhnya, memaksanya beristirahat selama beberapa bulan di rumah sakit "Onder de Bogen" di Yogyakarta. Setelah pulih sedikit, ia kembali ke Wedi, tetapi keadaannya tidak lagi seperti sebelumnya. Pendudukan Jepang mengubah segalanya. Ketika Novisiat di Giri Sonta kehilangan Magister Novisnya, Pastor Hardja ditunjuk untuk menggantikan posisi tersebut. Ia meninggalkan Wedi dan tidak pernah kembali, karena tugas di Novisiat semakin menguras kekuatannya, terutama ketika semua Pater Belanda ditempatkan di kamp-kamp dan para imam Jawa harus mengambil alih seluruh pekerjaan misionaris.

Di rumah sakit "Onder de Bogen," ia dirawat dengan penuh perhatian oleh Dokter Sentral, Suster Agnella, dan Suster Sponsaria. Mereka semua bersaksi bahwa meskipun berada di ranjang sakit dan menghadapi kematian, ia tetap memancarkan semangat yang cerah.

Saat saya melewati kamarnya suatu hari, ia memberi isyarat agar saya mendekat. Dengan suara berbisik, ia berkata, "Saya senang melihat Anda begitu sibuk. Saya tidak bisa melakukannya lagi. Kehendak Tuhan!" Saya hanya tersenyum, karena ia pun tersenyum. Tak lama setelah itu, Tuhan memanggilnya kembali pada 12 Desember 1943. Ia beristirahat dengan damai, dimakamkan di Yogyakarta.

Riwayat Penugasan

Pastor Paroki Klaten Klaten 1934-1940
Pastor Paroki Wedi Klaten 1940-1942
Formatio – Novisiat Girisonta Girisonta 1942-1943