Pater Prennthaler: Misionaris yang Setia di Tanah Jawa
Pater Prennthaler menghembuskan napas terakhir di Boro, Kulon Progo di tempat kesayangannya di Beloken Paschen. Ia dikenal sebagai salah satu misionaris terbesar yang berperan penting dalam misi di Jawa, bersama Pater van Lith dan Pastor Sträter. Selama pendudukan Jepang, ia tetap menjalankan tugasnya tanpa pernah digunakan oleh pasukan Jepang sebagai pekerja magang.
Awalnya, ia melanjutkan pekerjaannya di Rawaseneng, di mana ia terlibat dengan sekolah misi pertanian. Namun, setelah sekolah itu ditutup oleh Jepang, ia kembali ke Bara, sebuah pusat misi dekat Kalibawang, tempat ia membangun gerejanya sendiri. Sementara para Romo Belanda berada di kamp, ia dengan penuh dedikasi tetap melayani umat, dibantu oleh seorang cendekiawan Jawa dan seorang bruder. Ia mengajar katekismus, memberikan bimbingan rohani, dan mengurus para seminaris muda keuskupan.
Setelah Jepang menyerah, Pastor W. Vendel, seorang imam asal Tjimahi, kembali pada 20 September 1945 untuk berbagi tugas dengan Pater Prennthaler, bersama beberapa frater. Namun, pada 13 Oktober 1945, muncul kabar bahwa semua orang Eropa akan diasingkan oleh Republik. Para pastor pun diusir kembali ke kamp, kecuali Pater Prennthaler yang sedang dalam perjalanan misionarisnya. Dengan kefasihan bahasa Jawanya yang mengagumkan, ia berhasil meyakinkan Polisi Militer untuk membiarkannya tetap tinggal.
Untuk kedua kalinya, ia berdiri sendiri sebagai imam yang bertanggung jawab atas pelayanan rohani di Bara, dibantu oleh Frater Harsasowita dan Frater Poespaatmadja. Beban tugasnya begitu besar—membaca Misa, berkotbah, mengajar, dan berkeliling wilayah pegunungan Kalibawang. Meski telah berusia lebih dari enam puluh tahun, semangat dan ketekunannya membuat para cendekiawan muda berjuang keras untuk mengimbanginya.
Pada 28 April 1946, pukul tiga sore, Romo Martawerdaja mengadakan upacara absolusi bagi Pater Sandjaja dan Frater Soenarja. Di makam itu, ia membacakan salam perpisahan terakhir untuk Pater Prennthaler. Seorang guru Jawa yang hendak menyampaikan rasa terima kasih kepada misionaris tercinta itu akhirnya hanya terdiam, tak mampu mengungkapkan kata-kata. Pater Prennthaler telah tiada. Ia beristirahat dalam damai.
Riwayat Penugasan
| Belajar bahasa | Muntilan | 1920-1921 |
| Pastor Paroki Mendut | Magelang | 1921-1924 |
| Educatio - Mendut | Magelang | 1924-1934 |
| Cuti (di luar Indonesia) | Austria | 1934-1935 |
| Pastor Paroki Boro | Yogyakarta | 1935-1936 |
| Pastor Paroki Rawaseneng | Temanggung | 1936-1942 |
| Pastor Paroki Boro | Yogyakarta | 1942-1946 |